Diam, memang yang aku lakukan hanya bisa diam.
Tak tahu apa aku sadar atau tidak sadar, sebelum ia bilang diriku berbicara dalam diam.
Memang tidak semudah itu bicara mengenai perasaan...
Tidak semudah itu membilang resah...
Pun tidak segamblang melontar nestapa...
Kesal pada kata yang hanya bisa terhenti pada ujung lidah dan bibir yang menganga kecil,
mengurungkan niat untuk berkata.
Hanya buliran merosot di pipi yang tak mengenakkan jika dipandang.
Membisik di hati dan mengatakan maaf... memeluk bayangan dan tak ingin membiar pergi...
Maaf, bosankah mendengar kata yang selalu terucap?
Hanya saja aku takut menyakiti...
Takut ketika kaki ini lupa berpijak,
salah memijak dan menghancurkan segala yang ada.
Kaki-kaki berjalan berjingkat, mengikuti irama tanpa alunan dendang dan senandung musik.
Kaki-kakiku berhenti sejenak...
Bertanya sendiri, kapan rasa resah ini hilang?
Lelah bertanya tanpa akhir dan tak ingin rasa berakhir...
Jawablah kelak, nanti yang akan menjawab...
Morbi leo risus, porta ac consectetur ac, vestibulum at eros. Fusce dapibus, tellus ac cursus commodo, tortor mauris condimentum nibh, ut fermentum massa justo sit amet risus.