Aku bingung, berapa lama mata-mata itu lama terpejam?
Berapa lama mulut itu berhenti bergumam tanpa suara?
Berapa lama tangan itu terlipat?
Berapa kali ia mengucap rasa syukur?
Tunggu, apa dia meminta? Atau mengucap puji-pujian?
Sekiranya mereka berujar kepada-Nya, hanya rahasia dua yang tahu.
Mereka tak beranjak, di kursi kayu itu.
Seperti duduk di taman bunga dengan ilir-ilir angin yang menyejukkan.
Seperti menikmati suasana di bawah langit yang bening dan tak bercela.
Mereka...
Bukan aku.
Aku saja duduk di sini malu karena meminta maaf dan meinta-minta.
Setiap pada minggunya.
Tapi mereka...

Lipatan tangan mereka ditemani helaian bulu putih samar yang tertanam di kerutan kulit dihiasi aneka bola pendar hitam yang mulai mendominasi.
Mata mereka tak setajam dulu, kuyu memayu, tapi bersahaja.
Senyum mereka disambut dengan peduli tak peduli.
Mulutnya berucap syukur di antara bibir yang tak merekah ketika dulu.
Tua bukan menjadi kata yang melemahkan,
walau kaki sudah tak berdaya menopang.
Tapi hati mereka kuat.
Entah, rambut putih itu mungkin melambangkan suka dan duka yang mereka kumpulkan.
Keriput menghitung kebaikan mereka, karena kian melangkah, mereka kian menambah lipatan kecil keriput itu. Kebaikan mereka seperti selongsong yang tak akan diam berhenti walau hanya berapa mili.

Mereka tetap bersahaja di tengah rasa yang mulai menguat dengan alam,
suatu saat kembali menyatu dengan tanah.
Karena mereka sudah cukup baik di mata-Nya, walau mereka tak merasa cukup baik.
Hanya syukur yang terucap, bukan pintaan.



untuk setiap mereka yang masih saja duduk dan mendengarkan suara-Nya di pinggir bangku panjang
I'm on my way to the death.
Get out of my way.
Bilang "nanti"
nanti itu sekarang
atau besok
atau minggu depan
bulan depan
tahun depan
apa maksudnya itu?
karena menunda
karena tak ingin memikirkan
pernah kupikirkan
lebih baik aku mati
berdoa supaya aku cepat mati
sehingga nanti tiba
tapi sekarang
tanpa tanda akhir
cuma bisa mengelak
bergerak pun tak ke tepi
harapan untuk mati berdiri
mencari jawaban tak kunjung selesai
karena ini tanpa tanda akhir

Tahu dimana keberadaan kerang-kerang
Karena di pesisir terdapat rumah mereka
Cangkang mereka menebar
Apik dan manis
Apa harus mencari kerang lagi?
Harus diketuk pintu rumah mereka untuk tahu
Harus mengintip
Harus mengamati
Apa itu kerang atau rumahnya?
Apa mereka meninggalkan?
Apa mereka mati?
Masihkah jika mereka mati dan meninggalkan masih disebut kerang?
Atau hanya karena rumah mereka tampak disebut kerang?
Kalau begitu jangan cari mereka.

Cerita bersanding
Pikirku membanding
Mencintai apakah sama dengan menyayangi
Hanya rasa dalam merasuki
Kuingin menutup mata
Tak ayal dorongan untuk berkata
Bertanya untuk meyakinkan
Kudapat hanya kekecewaan
Kupendam sesekali
Melupakan apa yang terlewati


Percayakah waktu berputar
Atau otak yang berputar mengitari poros lalu?

Mungkin saja benar, mungkin saja tidak
Jawabanku masih entah, itu jawaban perempuan yang duduk bersila di tengah ruangan.
Lalu aku diam dan bertanya....
Lalu aku diam dan menjawab....
Jawaban? Seharusnya pertanyaan tak ada.
Memang alasan ada, tapi tak semua alasan memiliki alas.

termasuk menyayangi kamu, itu pun tak harus memiliki alasan yang terasa merdu di telinga dan manis diucapkan di bibir.
Mendayu-dayu bisikan angin memanjakan aku. Harum khas ini menggelitik lubang hidungku. Rasanya hanya ingin menyimpan baunya di kepalaku dalam sebuah botol. Ketika aku rindu aku hanya bisa menikmati aromanya, merasakan dirinya selalu ada di dekatku, mendekapku erat. Kali ini bibirnya tersenyum, begitu manis seperti biasa. Tatap mata teduhnya tak bisa mengelak. Hanya rasa kalut ingin melepas rindu. Biarkan akududuk berteduh di dalam hangat mata cokelatmu.

Membiarkan ujung jarinya menelusuri wajahku, merasakan tiap inci pergerakannya. Aku bisa gila! Katanya, dia sudah gila. Perlahan matanya menutup rapat, wajahnya mendekat. Aku bisa merasakan aroma itu lebih pekat, aroma napas dan tubuhnya yang berbaur menjadi satu entah membuat sebuah feromon yang tidak bisa tergambar betapa nikmat aroma itu. Rasanya hanya aku sendiri saja yang harus merasakannya. Hanya aku...


Bibirnya perlahan terbuka meraih bibirku. Lembut, begitu lembut. Bisa-bisa aku pingsan di tempat. Aku menikmatinya. Menikmati bibirnya yang menyentuh bibirku, seakan semua saraf membuatku kaku tak bisa bergerak. Kau tahu rasanya? Ini paduan aroma napas, aroma tubuh, hangat napasnya, hangat bibirnya, hangat ujung jarinya, nggghhh.... aku rasa.... aku bisa gila...

“Kamu sudah gila sayang. Sama seperti aku,” bisiknya.

Ia mengecup keningku.


Aku terbangun dari mimpi lelapku... apa itu mimpi atau bukan ya?

Popular Posts