Dariku, Setiap Keriput

/
0 Comments
Aku bingung, berapa lama mata-mata itu lama terpejam?
Berapa lama mulut itu berhenti bergumam tanpa suara?
Berapa lama tangan itu terlipat?
Berapa kali ia mengucap rasa syukur?
Tunggu, apa dia meminta? Atau mengucap puji-pujian?
Sekiranya mereka berujar kepada-Nya, hanya rahasia dua yang tahu.
Mereka tak beranjak, di kursi kayu itu.
Seperti duduk di taman bunga dengan ilir-ilir angin yang menyejukkan.
Seperti menikmati suasana di bawah langit yang bening dan tak bercela.
Mereka...
Bukan aku.
Aku saja duduk di sini malu karena meminta maaf dan meinta-minta.
Setiap pada minggunya.
Tapi mereka...

Lipatan tangan mereka ditemani helaian bulu putih samar yang tertanam di kerutan kulit dihiasi aneka bola pendar hitam yang mulai mendominasi.
Mata mereka tak setajam dulu, kuyu memayu, tapi bersahaja.
Senyum mereka disambut dengan peduli tak peduli.
Mulutnya berucap syukur di antara bibir yang tak merekah ketika dulu.
Tua bukan menjadi kata yang melemahkan,
walau kaki sudah tak berdaya menopang.
Tapi hati mereka kuat.
Entah, rambut putih itu mungkin melambangkan suka dan duka yang mereka kumpulkan.
Keriput menghitung kebaikan mereka, karena kian melangkah, mereka kian menambah lipatan kecil keriput itu. Kebaikan mereka seperti selongsong yang tak akan diam berhenti walau hanya berapa mili.

Mereka tetap bersahaja di tengah rasa yang mulai menguat dengan alam,
suatu saat kembali menyatu dengan tanah.
Karena mereka sudah cukup baik di mata-Nya, walau mereka tak merasa cukup baik.
Hanya syukur yang terucap, bukan pintaan.



untuk setiap mereka yang masih saja duduk dan mendengarkan suara-Nya di pinggir bangku panjang


You may also like

No comments:

Popular Posts