Mendayu-dayu bisikan angin memanjakan aku. Harum khas ini
menggelitik lubang hidungku. Rasanya hanya ingin menyimpan baunya di kepalaku
dalam sebuah botol. Ketika aku rindu aku hanya bisa menikmati aromanya,
merasakan dirinya selalu ada di dekatku, mendekapku erat. Kali ini bibirnya
tersenyum, begitu manis seperti biasa. Tatap mata teduhnya tak bisa mengelak.
Hanya rasa kalut ingin melepas rindu. Biarkan akududuk berteduh di dalam hangat
mata cokelatmu.
Membiarkan ujung jarinya menelusuri wajahku, merasakan tiap
inci pergerakannya. Aku bisa gila! Katanya, dia sudah gila. Perlahan matanya
menutup rapat, wajahnya mendekat. Aku bisa merasakan aroma itu lebih pekat,
aroma napas dan tubuhnya yang berbaur menjadi satu entah membuat sebuah feromon
yang tidak bisa tergambar betapa nikmat aroma itu. Rasanya hanya aku sendiri
saja yang harus merasakannya. Hanya aku...
Bibirnya perlahan terbuka meraih bibirku. Lembut, begitu
lembut. Bisa-bisa aku pingsan di tempat. Aku menikmatinya. Menikmati bibirnya
yang menyentuh bibirku, seakan semua saraf membuatku kaku tak bisa bergerak.
Kau tahu rasanya? Ini paduan aroma napas, aroma tubuh, hangat napasnya, hangat
bibirnya, hangat ujung jarinya, nggghhh.... aku rasa.... aku bisa gila...
“Kamu sudah gila sayang. Sama seperti aku,” bisiknya.
Ia mengecup keningku.
Aku terbangun dari mimpi lelapku... apa itu mimpi atau bukan
ya?
Morbi leo risus, porta ac consectetur ac, vestibulum at eros. Fusce dapibus, tellus ac cursus commodo, tortor mauris condimentum nibh, ut fermentum massa justo sit amet risus.