Flashback

/
0 Comments
Mendayu-dayu bisikan angin memanjakan aku. Harum khas ini menggelitik lubang hidungku. Rasanya hanya ingin menyimpan baunya di kepalaku dalam sebuah botol. Ketika aku rindu aku hanya bisa menikmati aromanya, merasakan dirinya selalu ada di dekatku, mendekapku erat. Kali ini bibirnya tersenyum, begitu manis seperti biasa. Tatap mata teduhnya tak bisa mengelak. Hanya rasa kalut ingin melepas rindu. Biarkan akududuk berteduh di dalam hangat mata cokelatmu.

Membiarkan ujung jarinya menelusuri wajahku, merasakan tiap inci pergerakannya. Aku bisa gila! Katanya, dia sudah gila. Perlahan matanya menutup rapat, wajahnya mendekat. Aku bisa merasakan aroma itu lebih pekat, aroma napas dan tubuhnya yang berbaur menjadi satu entah membuat sebuah feromon yang tidak bisa tergambar betapa nikmat aroma itu. Rasanya hanya aku sendiri saja yang harus merasakannya. Hanya aku...


Bibirnya perlahan terbuka meraih bibirku. Lembut, begitu lembut. Bisa-bisa aku pingsan di tempat. Aku menikmatinya. Menikmati bibirnya yang menyentuh bibirku, seakan semua saraf membuatku kaku tak bisa bergerak. Kau tahu rasanya? Ini paduan aroma napas, aroma tubuh, hangat napasnya, hangat bibirnya, hangat ujung jarinya, nggghhh.... aku rasa.... aku bisa gila...

“Kamu sudah gila sayang. Sama seperti aku,” bisiknya.

Ia mengecup keningku.


Aku terbangun dari mimpi lelapku... apa itu mimpi atau bukan ya?


You may also like

No comments:

Popular Posts